Climb to the top. Re-built the Climbing Wall, re-built the spirit

Saat itu tahun 1999, tak lama setelah kami, angkatan IX, resmi menduduki posisi “top management” alias pengurus di Sispala BY. Saudara kami, yang kepalanya dipenuhi ide-ide busuk, Godeg, saudara yang satu tingkat lebih tua (saat itu kami kelas 2, dan dia sudah kelas 3), mulai menumpahkan satu ide busuknya. Renovasi Climbing Wall BY!! Ya, kami akan membuat Wall ini lebih tinggi, dan sedikit memodifikasi konturnya. Wall yang semula setinggi 9 meter itu, nantinya akan menjadi 14 meter lebih dengan konfigurasi kontur yang akan menyediakan alternatif jalur panjat lebih sulit. Akan kami lanjutkan semangat pendahulu kami, yang membangun Wall ini pertama kali. Tentu Wall baru ini akan lebih memuaskan birahi kami dalam hal panjat memanjat. Di angkatan kami, penggila wall climbing cukup banyak.

Dalam bayangan kami, steel structure yang tersusun atas besi siku dirangkai dengan bolting joint itu, yang supaya rigid dijaga oleh wire rope sling dari ancaman wind load dan beban structure sendiri, dihiasi papan hijau dilapisi primer coat & top coat paint seadanya dan dipasangi point tersebut, hanya akan kami tambahkan beberapa material yang sama untuk menambah ketinggiannya. (Maaf, sedikit memasukkan istilah engineering).

Dana pun kami himpun, melalui bazaar. Mengontak beberapa gerai fast food di Denpasar untuk kerjasama, mencetak kupon dan menebar nya. Pengalaman menjadi seorang Sales pun kami dapatkan disini. Hasilnya? Dua juta rupiah rupiah lebih kami kumpulkan. Pada tahun itu, jumlah ini sangat besar bagi kami. Dengan pede, berbekal dana yang menurut kami sangat banyak itu, kami berkonsultasi dengan Rock & Alpine (RA), yang boleh saya sebut sebagai salah satu legenda dalam dunia kepecintaalaman di Bali. Ide renovasi yang kami utarakan pun dikonversikan ke dalam rupiah. Ternyata, dana itu hanya sepertiga dari total biaya produksi !! Yaitu biaya material, biaya produksi dan man power cost, belum termasuk margin alias laba. Orang-orang RA memaklumi kendala kami, dan berbaik hati menghilangkan margin itu. Membangun Wall seperti ini adalah kebanggaan tersendiri buat mereka. Dedikasi mereka pada dunia kepecintaalaman sangat luar biasa. Coba dipikir, mana ada orang yang mau kerjakan proyek tanpa margin, apalagi yang tidak bisa menimbulkan potensi repeat order? Seperti proyek renovasi ini.

Nah, masih ada dua pertiga yang harus kami cari dananya. Apalagi yang bisa kami buat? Banyak rencana lain yang mulai kami pikirkan. Menawarkan papan untuk sponsorship sepertinya cukup ampuh. Beberapa gerai adventure gear dan distro jadi target utama kami. Juga teman-teman sekolah yang ortunya cukup berada, punya posisi penting di kantornya, atau yang golongan pengusaha. Ternyata banyak sekali tantangannya. Duit lagi, duit lagi…..

Perjuangan kami mencari sponsor mulai ada titik terang. Beberapa sponsor datang dari internal sekolah, mulai rekan dari salah satu wali murid, toko milik wali murid, sampai ke beberapa kelas. Beberapa gerai adventure gear dan distro juga berhasil kami rayu. Bahkan salah satu lembaga bimbingan belajar bersedia membeli salah satu papan. Lagi-lagi, pengalaman kami menjadi Sales bertambah. Tapi tetap saja masih kurang. Dan akhirnya overbudget itu kami tutupi dengan cuk cuk (bahasa gaul ABG Bali, artinya urunan). CA X pun turut serta. You’re the best CA ever, li’l bro!!

OK, project renovasi Climbing Wall pun dimulai. Godel ditunjuk menjadi Kepala Proyek. Steel structure sampai ke pondasinya mulai dibongkar. Pondasi dibuat lebih dalam (menjadi 1 meter), dan steel structure menjadi lebih besar dengan ukuran besi siku yang lebih besar pula. Inilah yang membuat dana membengkak sampai tiga kali. Proses Procurement pun dimulai. Semua material mulai kami beli. Dari sini aku mulai familier dengan jenis material steel structure. Banyak cerita yang kami alami dalam proyek yang memakan waktu sampai 2 caturwulan ini, juga energi yang terkuras untuk proyek ini.

Sering minta dispen (cara halus untuk bolos pelajaran, hahaha…), tertinggal beberapa materi di kelas, sering pulang malam, bahkan aku pun sempat menolak ikut olimpiade fisika mewakili sekolah. Pak Anam, guru fisika sekaligus pamanku, sangat kecewa saat itu. Hehe, maaf ya Om, jadi merasa berdosa lagi kalo diingat-ingat. Dengan anak2 BY lain pun sering berdebat. Salah satunya saat Godeg merasa single fighter dalam proyek ini. Yup, sometimes we can’t catch up with his rotten idea. Malam-malam bertengkar, berteriak dengan suara lantang di bale bengong adalah salah satu efek samping dari kelelahan kami mengerjakan proyek ini.

Dana yang makin mepet, ditambah hilangnya satu ember besar berisi baut-mur, membuat kenakalan kami mulai muncul. Kami “meminta tanpa ijin”, beberapa material seperti pasir, kerikil dan semen. Kebetulan dekat sekolah ada proyek perbaikan selokan. Pandi dan Sabat menjadi eksekutor, lalu aku dan Taufik bertugas menerima dan menyimpan hasil jarahan. Saat akan beraksi lagi, kami pun akhirnya tobat dan minta ijin tukang bangunan proyek itu. Untung, mereka ijinkan kami mengambil material lagi dengan gratis. Hahaha…. Pekerjaan mengecat papan kami lakukan sendiri, untuk menghemat man power cost. Pelajaran lain kami dapat, yaitu menjadi tukang kayu sekaligus pelukis. Juga pekerjaan mengecat steel structure dari Wall.

Selama Wall dibangun, kami pun menumpang di Wall orang lain. Wall milik SMU N 1, Unud, Unmas, Unwar, toko Seal, sampai adrenaline park pun kami jelajahi. Persaudaraan sesama pecinta alam menghilangkan kecanggungan di antara kami, saat menumpang Wall itu. Nantinya saudara-saudara baru kami ini menjadi salah satu modal kami dalam menyelenggarakan even BY berikutnya.

Menjelang millennium pergantian tahun 2000, Wall nyaris selesai. Finishing kami kebut, dan semakin larut malam kami bekerja. Satu cerita lucu terjadi, saat aku, Tembem, Godel & Godeg dengan setengah mengantuk melanjutkan melukis Wall sampai tengah malam. Papan yang akan dipasang di “roof”, rencananya kami lukis kata “Mantoel”, artinya Mantap Betoel. Mewarisi tulisan yang sama dari Wall sebelumnya. Huruf “a” yang kami lukis menjadi sangat aneh, dan lebih menyerupai (maaf) alat kelamin pria. Huahahahaha…!!! Akhirnya kami kamuflasekan lagi menjadi huruf “e”. Jadilah papan roof bertuliskan “Mentoel”, instead of “Mantoel”. Apa artinya ya? Nah, tengah malam itu pula kami putuskan itu sebagai “Mentok Betoel”. Meaning? Sampai di papan roof 1 meter ini sudah mentok dan konturnya sulit. Karena setelah roof, ada overhang 450 sepanjang 1 meter. Cukup sulit untuk pemanjat pemula tingkat SMU. Haha, agak maksain juga benernya.

Malam tahun baru 2000, sekolah mengadakan acara pergantian tahun selama sehari semalam. Pertama dan terakhir kalinya ada acara macam ini di sekolah. Peresmian Climbing Wall pun dilaksanakan setelah pergantian tahun oleh Kepsek. Kami tutupi bagian depan Wall dengan kain spanduk, yang kemudian terbuka menurun saat pita digunting oleh Pak Kepsek. Taufik dan Oryza beratraksi rapeling dengan posisi terbalik, untuk menurunkan spanduk dengan tulisan, yang aku sendiri lupa apa isinya. Hehehe… Puaslah kami. Kerja keras menguras energi telah terbayarkan. Climbing Wall baru telah berdiri. Sejarah baru BY telah ditulis, dengan kami sebagai pelaku sejarahnya.
Belum puas dengan Wall baru, kami akan teruskan kegilaan kami dengan ide busuk lain. Sejarah lain akan kami tulis lagi.
Selain proyek renovasi ini, kewajiban sebagai “top management” BY harus kami jalankan. Diklat rutin mingguan dengan CA harus konsisten kami isi. Rangkaian pelantikan seperti Lintas Alam Perumnas, Lintas Alam Canggu, Pra-Latdas sampai Latdas harus kami organisir di tengah repotnya proyek ini. Belum lagi kegiatan eksternal dengan organisasi pecinta alam lain. Seperti Temu Cinta Alam (TCA), Lomba Lintas Kampus, Susur Pantai dan lainnya. Itupun masih ditambah kegiatan Penghijauan se-Bali, hasil dari TCA.
Dan sebagai perayaan dari Climbing Wall BY yang baru itu, kami membuat sebuah even. Climbing Competition, bernama BY Cup. Tetap dengan kreatifitas, kegilaan, dan kekompakan yang sama. Hey..!! Membuat even dengan memulai dari modal nol rupiah itu tidaklah mudah. BY Cup membidik peserta dari kalangan siswa. Dan dengan apik bisa dilanjutkan ke BY Cup berikutnya oleh angkatan-angkatan setelah kami.
Kalau saya ingat lagi masa itu sekarang, rasanya kami ini seperti sekumpulan orang bodoh (atau gila??) yang dengan teganya mengesampingkan materi di kelas demi BY. Sempat tercetus sebuah moto, “sekolah jangan sampai mengganggu hobi”. Tapi Alhamdulillah, kami berhasil mengalahkan moto gila itu dan menyeimbangkan antara sekolah kami dengan hobi. Prestasi akademik tetap kami raih. Godeg bisa berprestasi merebut piala di Olimpiade Akuntansi, aku pun menebus dosa mangkir dari olimpiade fisika dengan memberi piala dari English Quiz se-Bali. Godel tak mau kalah dengan prestasinya di bidang seni rupa, dan menjadi salah satu pemain inti di MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas). Purti dan Lepot menguasai “top management” OSIS. O iya, semua anggota angkatan IX setelah lulus SMU diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) dan favorit. 2 orang diantara kami akhirnya memilih ke perguruan tinggi swasta favorit. Padahal sebenarnya kursi di PTN juga mereka raih. Ya, kenakalan itu telah kami tebus dengan prestasi. Mamaku pun seolah lupa bahwa dulu anaknya ini sering bolos dari kelas, gak mau ikut olimpiade fisika, sering pulang malam dan jarang kelihatan di rumah, kecuali saat akan tidur dan baru bangun tidur.

-end-