Kemana Perginya Dedaunan Kering Itu?

Sampah merupakan material sisa dari manusia, hewan, maupun tumbuhan yang sudah tidak terpakai dan dilepaskan ke alam dalam bentuk padatan, cair, dan gas. Begitu kita mendengar kata sampah, hal yang pertama kali terlintas dipikiran kita adalah barang tidak terpakai pembuat kotor dan sejenisnya. Namun apakah terlintas dipikiran kalian bahwa sampah yang kita anggap rendah itu dapat berguna bagi kita semua? Sesungguhnya sampah itu bisa sangat berharga ketika kita dapat mengolahnya dengan benar.

Ada dua jenis sampah berdasarkan sifatnya yaitu :

  1. Sampah organik atau sampah yang dapat terurai (degrable)
  2. Sampah anorganik atau sampah yang tidah mudah terurai (undegradable)

Kedua jenis sampah ini sudah sering kita dengar bukan? Walaupun sekilas keduanya memiliki kemiripan nama, namun pada dasarnya kedua jenis sampah ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Sampah anorganik contohnya adalah sampah plastik ataupun kaleng kalengan yang sulit membusuk. Untuk menanganinya dapat di terapkan gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Sedangkan sampah organik contohnya adalah sisa makanan, sayuran, dedaunan kering. Melihat semakin banyaknya sampah organik di lingkungan masyarakat, maka semakin besar pula potensi untuk mengolah sampah organik terutama dedaunan kering untuk dijadikan pupuk kompos.

Kompos ini sendiri dapat memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dimana hal ini akan membantu tanaman dalam melawan serangan penyakit.

Pupuk kompos ini memiliki banyak manfaat, beberapa diantaranya adalah :

  1. Mengurangi volume limbah
  2. Meningkatkan kesuburan tanah
  3. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
  4. Menekan pertumbuhan penyakit pada tumbuhan
  5. Meningkatkan kualitas panen
  6. Harga jual tinggi daripada bahan asalnya dan masih banyak lagi.

Begitu banyak keuntungan yang diperoleh dari hasil olahan sampah ini. Hal ini juga menjadi latar belakang dari kasus hilangnya dedaunan kering di SMAN 4 Denpasar ini. Menjadi salah satu kegiatan dalam masa bakti AM 27 Sispala Bhuana Yasa mengharuskan kegiatan mengolah sampah organik ini berlangsung setiap satu minggu sekali (mayoritas berlangsung hari Kamis atau Sabtu).

Dedaunan kering yang memang sudah terlebih dahulu dikumpulkan itu diolah secara manual sehingga dapat menghasilkan pupuk kompos. Tahapan yang pertama yaitu menghaluskan dedaunan kering tersebut. Ini dapat dilakukan dengan cara memotong, mencacah atau menggunakan blender tangan. Selanjutnya, dedaunan yang sudah halus tersebut ditaruh dalam tempat lembab dan tertutup selama beberapa minggu. Kita dapat mempercepat proses ini dengan cara memberikan bakteri tambahan. Setelah berbentuk seperti tanah dan berwarna gelap, kemudian dilanjutkan dengan menyaringnya sehingga terpisah dengan bagian yang belum jadi. Hasil dari saringan itulah dinamakan kompos.

Kompos yang sudah jadi tersebut dapat langsung digunakan atau dimasukkan ke dalam plastik kiloan untuk di jual. Sama halnya dengan kompos hasil dari tangan tangan AM 27 yang kini sudah dijual ke masyarakat sekitar kawasan SMAN 4 Denpasar. Diharapkan dengan ini dapat menyadarkan kita semua tentang pentingnya menjaga lingkungan. Salah satu caranya dengan mengolah sampah dedaunan kering menjadi pupuk yang bermanfaat yaitu pupuk kompos.

-Salam lestari