8 Ultralight Tips untuk Menyiasati Beban Perjalanan

(1) Pastikan the big three seri ultralight

  • Tenda/Shelter jangan lebih dari 2,5 kg.
  • Sleeping Bag sebaiknya jangan lebih dari 600 gram
  • Carrier sebaiknya jangan lebih dari 50 liter

Tenda ultralight biasanya menggunakan frame berbahan aluminium, alas bukan terpal dan berkapsitas 1-3 orang. Untuk keamanan terkadang memerlukan tambahan footprint. Tentu harganya menjadi relatif mahal, biasanya di atas Rp 2.000K. Sebagai alternatif bisa menggunakan tenda dari produsen Cina seperti Naturehike.

Banyak solo hiker yang beralih menjadi Hammoker

Semakin ringan sleeping bag bukan berarti semakin baik, karena beberapa sleeping bag kategori ultralight tidak dirancang untuk suhu ekstrim. Contohnya Deuter Dreamlite 500 dengan bobot 600 gram nyaman dipakai pada suhu lebih dari 10⁰ C. Tentunya akan beresiko jika dipakai pada daerah yang suhunya bisa mendekati atau di bawah 0⁰ C, apalagi pada bulan Juni-Juli. Jadi, memang harus harus cermat memilih sleeping bag yang nyaman tapi ringan.

Usahakan memilih carrier dengan kapasitas yang disesuaikan dengan lama perjalan. Untuk perjalanan 3-4 hari carier 50 liter sudah lebih dari cukup.

(2) Gunakan Matras Aluminium

Setidaknya ada 3 macam alas tidur yang populer dikalangan pendaki, yaitu berbahan karet, Aluminium, dan tiup. Matras Aluminium memiliki keunggulan pada bobot yang ringan dan harga murah (Rp 40K-70K), hanya seberat sebungkus mie instan (200 gr). Dengan ukuran packing yang sama, Matras aluminium (100 cm x 200 cm) lebih lebar dari matras berbahan karet (60 cm x 200 cm) yang berbobot 500 gram. Hanya kalah ukuran packing dari matras tiup yang harganya bisa mencapai Rp 700K.

(a) Matras Aluminium (b) Matras Angin

Jika ingin packing lebih ringkas bisa dengan memotong matras aluminium yang disesuikan dengan ukuran tubuh.

(3) Kompor Alkohol DIY

Dari ukuran packing dan bobot kompor parafin dan kompor alkohol memang lebih praktis dari kompor gas. Jika ingin lebih ringan bisa mencoba kompor alkohol DIY (Do It Yourself) dari kaleng minuman soda. Ada yang menyebut "Kompor Cola" Bahan bakar spritus juga bisa diganti dengan metanol yang harganya lebih murah.

Membuat Kompor Alkohol DIY

(4) Jangan pakai kaos katun

Untuk pakaian jalan hindari pakaian berbahan katun. Katun memang mudah menyerap keringat dan nyaman dipakai tetapi tidak mudah mengevaporasi keringat ke udara. Tentunya jika basah akan lama keringnya.
Sebagai kaos katun bisa menggunakan kaos berbahan sintetis seperti polyester. Pilihan yang murah seperti jersey bola atau manset (baselayer) yang banyak dijual dengan harga tidak lebih dari Rp 80K.

(5) Jas Hujan HDPE

Meski tidak sekuat dan setahan lama jas hujan standar, jas hujan HDPE seharga kurang dari Rp 10K terbukti bisa menjadi pilihan efisien untuk ultralight hiking.

(6) Buff, bandana serbaguna

Selain bisa melindungi kepala dari terik matahari, buff juga bisa dipakai untuk mengganti fungsi slayer dan masker. Buff berbahan polar biasa digunakan untuk mengganti kupluk.

(7) Navigasi dengan GPS Smartphone

Memang dalam perjalanan perlengkapan navigasi tidak wajib, tetapi bila itu diperlukan maka pilihan yang paling efisien adalah menggunakan aplikasi di Smartphone sebagai pengganti Handheld GPS atau perlengkapan navdar konvensional (peta, kompas, dan altimeter). Rata-rata Smartphone saat ini telah dibekali GPS reciever yang mampu bekerja layaknya Handheld GPS dengan tambahan aplikasi seperti Gaia GPS, AllTrail, dan BackCountry Nav Topo Maps GPS. Tentunya tanpa jaringan operator atau kondisi offline. GPS Smartphone masih bisa bekerja dengan optimal. Sayangnya untuk aplikasi dengan fitur lengkap kebanyakan adalah aplikasi berbayar.

Tampilan jalur dan peta topografi Ranu Kumbolo via Watu Rejeng dengan aplikasi Gaia GPS pada Smartphone Redmi 3

(8) Daypack lipat untuk Summit Attack

Nyoman Ginastra

Pengajar serabutan, pecinta tanaman dan gunung

Denpasar

Subscribe to Bhuana Yasa

Get the latest posts delivered right to your inbox.

or subscribe via RSS with Feedly!