Kilas Balik Latihan Dasar Angkatan X Sispala Bhuana Yasa

Baju untuk kegiatan seingatku ada tiga, baju putih, baju olahraga dan baju Latdas. Sedangkan celana tetap celana panjang hitam. Menu harian kami tak dapat kuingat dengan jelas, yang pasti ada mie,telur dan nasi, sedangkan tambahannya aku sudah lupa (ntah kering tempe atau abon ayam). Saat itu kami tidak boleh membawa makanan dari daging sapi. Kami memasak dengan menggunakan nesting TNI dan kompor spritus, kompor tahan banting yang harus diimbangi dengan tahan aroma makanan yang menjadi mirip aroma spritus.

Kejadian yang tidak akan aku lupa di area camp ini adalah kejadian “‘lampu badai”. Suatu sore, dalam suasana yang santai, senior bertanya kenapa lampu badainya belum dinyalakan. Aku jawab dengan nada bercanda, “belum kak, kan belum ada badai, hehe”, di samping memang kondisinya memang masih terang. Namun,  kurang dari semenit, tiba-tiba angin berhembus kencang…sangat kencang malah hingga tenda kelompok tetangga (aku lupa tenda milik siapa) tersingkap dan terbang. Tak seberapa lama angin pun reda, dan suasana kembali tenang. Kontan saja senior datang sambil bertanya dengan nada yang agak keras “siapa tadi yang minta-minta badai?!”. hah, salah ngomong nih, bercanda tidak pada tempatnya. Hal lain yang aku ingat adalah ketika tengah malam yang disertai hujan deras, aku dan oche terbangun. Beberapa patok tenda kami lepas, dan air membanjiri bagian dalam tenda..atau setidaknya tempat kami berdua tidur. akhirnya salah satu dari kami keluar, untuk membenarkan tenda daripada air yang mengalir membesar menjadi sungai. Pada saat mendirikan tenda di tengah terik , kami tidak memikirkan sistem drainase sebagai antisipasi hujan deras. Akibatnya ada “sungai” yang melintas di dalam tenda kami. 

MATERI DAN KEGIATAN

Urutan kegiatan Latdas udah tak lagi aku inget. Materi seperti turun bukit, merayap, pruisiking didampingi oleh panitia. Sedangkan panjat tebing dan ESAR diberikan oleh Basarnas.

Hari-hari latihan dasar dibuka dengan olahraga rutin di pagi hari saat matahari masih bersembunyi. Lari sambil terkantuk-kantuk adalah hal yang biasa. Begitu pula apabila ada materi malam. Menaruh perhatian penuh kepada senior pemateri (kalo tidak salah saat itu adalah kak Rani, senior BY saat itu tergabung dalam Mapala WD, saya lupa materinya apa) adalah hal yang penuh perjuangan. Belum lagi suara genset yang membuat pengajar tidak terdengar jelas. Pada dasarnya Latdas adalah materi lapangan/materi praktek, karena sebelum Latdas kami rutin diberi materi kelas setiap minggunya dengan penerapan melalui lintas alam. Namun, materi tersebut memang tidak memadai. Baik dari substansi maupun ketepatan materi.

Dilatih oleh tim Basarnas sama menegangkannya dengan dilatih senior, kakak-kakak tim SAR sangat tegas, terutama terkait peralatan. Menginjak tali, dipastikan akan mendapat bonut set. Menjatuhkan alat, mendapat  bonus set. Terlalu lelet, mendapat bonus set. Belum lagi kalimat-kalimat “motivasi” ketika kita sedang melaksanakan kegiatan panjat tebing. kalimat-kalimat yang cukup melatih mental.

Bonus set ini hampir saja aku dapatkan ketika kegiatan rappeling. Saat hendak rappeling di tebing, figure of eight tak sengaja kujatuhkan, tak ayal mas Basarnas bertanya, “apa itu?!?”, dengan tatapan dan sorot mata yang tajam. Meski kondisi fisik sudah lelah, untung saja otak masih bisa diajak berpikir cepat. “Maaf kak, figure terbentur pohon”, jawab aku berbohong. Untung saja alasan itu diterima. Aman sudah dari set-set hukuman yang menguras tenaga.  

Materi lain yang diajarkan oleh Basarnas adalah materis Evacuation, Search And Rescue (ESAR). Kami melakukan simulasi mencari rekan kami yang hilang di hutan dan tentu saja dengan sedikit bumbu tambahan. Para CA laki-laki diharuskan membuka baju saat melakukan ESAR. Ya, melakukan ESAR di antara semak berduri memang mengasikkan. Keluar dari area ESAR, tubuh pun penuh luka gores.

Materi lainnya senior yang saat itu kurang berfaedah adalah materi survival. Kami hanya dibiarkan mencari makanan sendiri dari siang hingga malam, tetapi tidak dijelaskan apa saja yang bisa dimakan hingga akhir kegiatan. Menu saat itu hanya buah bekul dan bekicot, yang diberi bumbu mie seludnuan yang dibawa oleh Betet. Benar-benar hanya fomalitas, makan bekicot biar menggugurkan tugas saja, tidak mengenyangkan perut.

Setiap materi selalu ada set yang ditambahkan. satu set terdiri dari 10 push up dan 10 sit. Sedikit beruntung sejak malam pertama, hujan selalu mengguyur sehingga kami tidak kepanasan dan kehausan. Namun tetap saja, fisik terkuras dengan berbagai macam kegiatan dan hukuman set yang bahkan utangnya menumpuk. Semacam bonus ketika ada kegiatan yang dibatalkan, salah satunya karena ada peserta yang sakit. memang, terlihat seperti bersukaria di atas penderitaan, tapi percayalah, jasanya sangat berarti :D. salah satu kejadiannya adalah ketika ada permainan kejar tangkap, tiba tiba saja asma Gek An Kumat. Dengan sigapnya betet berteriak minta tolong ke panitia dan kegiatan pun batal. Kami pun terbebas dari kewajiban lari naik turun jalur yang melelahkan.

Kejadian pembatalan kegiatan yang tergolong lucu adalah saat akan melakukan jurit malam, CA dikumpulkan di lapangan utama pada tengah malam. Senior berdiri di depan, dan mulai menaikkan suasana. Namun kali ini ada yang beda, ada senior terdengar sedikit meracau, bahkan antar senior saling bantah. Tanpa ada kejelasan, kami disuruh kembali lagi ke tenda untuk istirahat. Belakangan baru kami tahu, kala ini ada senior yang sedikit “tinggi” aka mabuk… haha. ini semacam bonus bagi CA, kegiatan jurit malam tidak ada, waktu istirahat pun bertambah panjang. 

Kegiatan penutup adalah longmarch menuju sekolah. Jarak pondok pemuda ke sekolah sekitar 18,5 km, jarak yang cukup lumayan untuk ditempuh setelah berkegiatan 6 hari 1 malam. Untung saja CA tidak diwajibkan untuk membawa ransel. Kami hanya membawa tongkat dan ponco saja, sedangkan untuk air minum hanya dijatah oleh panitia ketika istirahat. Dan kembali, hujan masih bersahabat dengan kami, sehingga hampir sepanjang perjalanan hujan menyirami kami, sehingga longmarch ini kami lalui tanpa harus kehausan. Kalau mau minum, tinggal menghadap langit saja. Salah satu kejadian yang masih terngiang adalah peristiwa jambu air. Hujan memang dapat menahan haus, tapi tidak dengan lapar. Hampir seminggu tidak mendapat asupan makanan yang menggugah selera membuat kami ingin segera menikmati makanan selain makanan rutin yang kami masak. karena itu, ketika melintasi pohon jambu air, kami pun bersiasat untuk mencuri jambu air yang menjuntai di tepi jalan. Mustika, sejauh ingatanku, segera menjalankan tugasnya, melompat dan meraih beberapa jambu air. Jambu air sudah ditangan dan segera didistribusikan ke CA yang lain. Sesampai di tangan Pam, ia pun mencicipi buah jambu itu. “Ah masih mentah”, lalu melempar jambu itu. Aku dan Mustika hanya terpana melihatnya…susah susah ngambil, dibuang begitu saja…….

Ya, begitulah sekilas gambaran latihan dasar Angkatan 10 Sispala Bhuana Yasa. Masih banyak sebenarnya peristiwa-peritiwa yang sudah mulai terlupakan atau tidak lulus sensor untuk diceritakan :D. Kini baik kegiatan dan lokasi kegiatan sudah berubah sama sekali. Tahun 2019 tidak ada Latdas di luar sekolah dan pondok pemuda pun sudah menjadi resort dengan pantainya yang dikenal sebagai pantai mimpi…suatu pantai tempat kami berusaha meraih mimpi…mimpi untuk menjadi seorang pencinta alam.

TETAP YANG TERBAIK!!!!!!! BHUANA YASA!!!!

Source : https://akuntomountain.wordpress.com/2020/05/05/kilas-balik-latihan-dasar-angkatan-x-sispala-bhuana-yasa/

Pages: 1 2 3

2 tanggapan pada “Kilas Balik Latihan Dasar Angkatan X Sispala Bhuana Yasa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *