Dari Senioritas untuk Solidaritas; Sebuah Kesalahan Paradigma oleh Pecinta Alam

Penulis: Keyza Widiatmika (20)

Seketika laju angin berderu kencang menabrak sabana yang semula tenang, riuh menjadi tegang. Sejumlah tanaman dengan mahkota putihnya yang entah itu edelweis atau bakung yang kuncup harus bertekuk lutut seolah takluk akan koloni yang menyerangnya. Adalah seekor rusa mungil yang terperangah melompat dari balik rimbun rumput yang menjulang. Sesekali terdengar sengal nafas dari lubang hidung yang dingin tertusuk angin. Ada apa gerangan? Satu rusa dewasa juga terlihat tergesa-gesa dibelakangnya. Tapi tunggu dulu, sepasang bola mata nampaknya menatap tajam pada bercak danau biru dari luasnya padang hijau. Bersebrangan dengan itu, berstana kokoh sang gunung, raja sebenarnya di taman itu. Balutan awan putih menjadi kalung mutiara yang berpendar melingkar di lehernya, mungkin membentuk simbol kerajaan. Dibaliknya, waktu kala senja menunjukkan pementasannya di langit sebagai dinding kerajaan dengan tata cahaya berwarna biru berlapis jingga yang mengaggumkan.

Indah nian gambaran dari sepenggal cerita tadi mengarah pada gambaran satu maha karya agung berjudul ‘Enam Pengendara Kuda mengejar Rusa’ buah karya sang maestro, Raden Saleh. Mari kita kencangkan ikat pinggang dan memutar kunci sejenak untuk menembus waktu ke beberapaa tahun silam. Dua buah segitiga sama sisi membentung gunung serupa, setengah lingkaran terapit rapat di tengah segitiga dengan garis halus di sekitar lingkaran sebagai pendaran cahaya. Dibagian bawahnya nampak jelas hamparan sawah yang luas lengkap dengan pematangnya, orang-orangan sawah, dan gubuk kecil menjadi ornamen pelengkap gambar dan lukisan itu. Tak hanya dalam benak Raden Saleh, sejatinya di masa kecil, kita memimpikan sesuatu yang indah. Mimpi-mimpi liburan dengan pemanjaan mata dan udara segar tertuang dalam gambar gunung dengan hamparan sawahnya. Namun mimpi perlahan disadarkan oleh kenyataan pahit bahwa keindahan itu diserang oleh sekelompok mimpi yang bersebrangan. Machiavellianisme oleh sebagian orang kini tak sebatas untuk menguasai orang lain. Niat menjadi raja di raja dengan proyek pembangunan besar-besaran sudah mulai tampak. Masalahnya adalah pembangunan itu bak bumerang tajam yang menjadi serangan balik yang lebih dahsyat. Sebenarnya tak ada masalah dengan pembangunan, tetapi penyalahgunaan lahan itulah yang menjadi masalah besar. Bombardir di wilayah konservasi, limbah pabrik yang menggumpal di perairan, emisi karbon yang mematikan nyawa berbagai macam organisme, dan lain-lain yang membahayakan. Dari sejumlah permasalahan itu, maka timbulah sebagian orang yang berkonfrontasi dan berniat menyelamatkan itu semua, membentuk suatu komunitas dan organisasi peduli lingkungan. Sebut saja Greenpeace, World Wide Fund for Nature (WWF), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI), dan masih banyak lagi. Selain itu, kesadaran tentang mencintai lingkungan serta menjaga kelestariannya kini terangkup dalam materi kepecintaalaman dan menjadi ekstrakurikuler Siswa Pecinta Alam (Sispala) di berbagai sekolah di Indonesia. Tapi sayangnya amukan angin beliung seketika berusaha untuk merubuhkan benteng persaudaraan dan mengancam keberadaan Sispala. Angin itu terlontar dari ucapan mulut Lasro Marbun, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Usut punya usut, kematian Arfiand Caesar Al Irhami siswa SMAN 3 Jakarta menjadi trigger ide pelarangan keberadaan organisasi ini. Karena dirasa akan menghadapi medan yang berat, penanaman mental yang kuat dan latihan fisik yang rutin dirasa perlu dalam kegiatan ini. Namun kerap kali pelajar dengan paradigma ekstrimis yang memandang bahwa perlunya pendidikan khusus untuk solidaritas organisasi. Menyandang gelar ‘senior’ membuat pendidikan khusus tersebut menjadi suatu tindakan arogan yang secara garis besarnya berujung pada kekerasan fisik dan bullying kepada adik tingkatnya atau yang kerap dijuluki dengan ‘junior’. Mari kita kembali kepada maha karya sang maestro, Raden Saleh. Seperti judulnya, rusa yang tergesa berlari itu tak lain karena suatu sebab. Ada yang luput dari penggambaran pada paragraf pertama. Ya, adanya enam penunggang kuda lengkap dengan segala macam persenjataan terlihat buas untuk menyergap sang rusa malang. Analogi dari lukisan Raden Saleh mengibaratkan pemburu-pemburu tersebut adalah pemilik kepentingan yang menginvestasikan modalnya pada pembangunan yang salah, kuda yang ditunggangi pemburu adalah para senior, sang rusa adalah junior, dan tanaman-tanaman itu adalah alam yang harus dijaga sebagai mana mestinya akronim dari sispala yakni siswa pecinta alam. Arang habis besi tak kimpal, kerugian banyak didapat namun harapan belum tercapai. Tak sesuai dengan tujuannya, nama pecinta alam secara tak sadar berubah menjadi organisasi radikal (yang dengan syarat) hanya orang tangguh yang bisa bergabung dan bertahan. Apa sebab, karena di Indonesia masih terjadinya kerancuan dalam pemaknaan pecinta alam. Sesuatu hal yang bersifat environmentalis dengan kegiatan penghijauan dan kelestarian lingkungan, dipadukan dengan kegiatan petualang seperti naik gunung hingga olahraga ekstrim panjat tebing dan berbagai olahraga ekstrim lainnya. Tak jarang niat perpaduan tersebut tidak berhasil oleh sebab karena beberapa dari para anggota pecinta alam masih beranggapan bahwa para adik tingkat harus dibekali pendidikan khusus itu, dengan cara yang salah. Akibatnya, sampai berakhirnya masa pendidikan hanya sebatas pengenalan teori tentang jati diri organisiasi dan sedikit pengenalan tentang lingkungan tanpa orientasi medan. Sosialisasi dan berbagai promosi tentang gagahnya organisasi ini ke adik tingkat seolah menjadi hal yang hipokrit dengan berbagai janji-janji manis yang ditawarkan bahwa halnya pecinta alam adalah organisasi yang menyenangkan. Kemudian, korban tumbang satu demi satu.

Jika hanya sebatas naik gunung, dengan bantuan perkembangan teknologi kita dapat dengan mudah untuk mencari informasi apa yang harus dipersiapkan dengan mengaksesnya di internet. Namun sebelumnya harusnya kita sudah memiliki bekal yang cukup. Dan seharusnya bekal tersebut didapat dari kegiatan organisasi pecinta alam. Perlu disadari ketika kita menikmati pemandangan alam, rasa berterimakasih itu dapat kita tuangkan melalui hal kecil seperti misalnya, tidak membuang sampah sembarangan. Dan harus disadari pula tak boleh arogan dengan menganggap ketika mencapai puncak gunung, adalah kesalahan yang fatal jika menganggap itu adalah sebuah penaklukan alam. Organisasi pecinta alam haruslah menanamkan pendidikan moral tentang menjaga lingkungan, memahami betul bagaimana bertahan di alam bebas, sekaligus mengajarkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Dengan prinsip humanity, kita belajar arti kesetiakawanan, etika mencari kawan tanpa memandang latar belakang SARA, kasih sayang,serta mampu berpikir kritis yang semua itu telah terangkup dalam Kode Etik Pecinta Alam se-Indonesia yang telah disahkan oleh Gladian Nasional ke-IV, 1974 silam.
Seperti apa yang telah dicetuskan Soe Hok Gie, pemrakarsa Mapala Universitas Indonesia, dalam bukunya ‘Catatan Seorang Demonstran’, Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia - manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi (kemunafikan) dan slogan - slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung. Tewasnya siswa SMAN 3 Jakarta itu bukanlah kali pertamanya organisasi pecinta alam di lingkup pelajar terkena musibah. Dan lontaran pernyataan Kepala Dinas Pendidikan DKI untuk melarang segala bentuk kegiatan organisasi pecinta alam sebenarnya membuka kartu bahwa Dinas Pendidikan dan segenap petinggi di sekolah menutup mata pada ekstrakurikuler yang ada di bangku sekolah. Dengan timbulnya korban jiwa, bukanlah sebuah kemungkinan jika tak ada pembina maupun pihak sekolah lainnya untuk turun langsung mengawasi kegiatan. Memberhentikan ekstrakurikuler sama saja membunuh kreativitas siswa. Apalagi pernyataan pemberhentian itu berdampak ke organisasi pecinta alam di sekolah lain yang sama sekali tidak menorehkan masalah namun malah menuai prestasi membanggakan.

Memang benar, siswa SMA adalah remaja yang sudah beranjak dewasa yang harusnya mampu memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Namun tak luput dari itu, beranjak bukan berarti segala sesuatu yang dilakukan bersifat baik. Emosi tak stabil muncul pada masa remaja. Sekolah berperan sangat penting dalam pembentukan karakter siswa-sisiwinya. Harusnya dukungan penuh diberikan kepada siswa yang ingin mengembangkan segala bakat positifnya. Bukannya jadi bahan aji mumpung untuk ketenaran pribadi dari prestasi siswanya, dan mengecam keras ketika para siswa melakukan kesalahan. Dukungan tersebut dapat berupa bantuan dana, pemberian fasilitas yang memadai, dan alangkah baiknya jika pihak sekolah mendukung untuk mendatangkan fasilitator yang ahli di bidangnya seperti misalnya tim SAR. Sekolah harus menjadi rumah kedua, dan pihak pengajar harus dapat menjadi orang tua sekaligus sahabat bagi para siswa-siswinya. Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein, “Kebanyakan orang mengatakan bahwa kecerdasanlah yang melahirkan seorang ilmuwan besar. Mereka salah, karakterlah yang melahirkannya.” Salam lestari!