Profil

Sispala Bhuana Yasa

  • Tanggal berdiri : 26 Juni 1990
  • Motto : Temukan jati dirimu di hadapan alam
  • Pembina : Made Sweca, M.Pd.
  • Ketua Umum : Dananjaya (26)
  • Angkatan terbaru : 27
  • Nomer Anggota terakhir : 531
  • Lambang: Elang botak mencengkram bumi.

Sejarah Singkat

Era 90-an

Bentuk ektrakurikuler Pecinta Alam di SMA Negeri 4 Denpasar telah dimulai tahun 1982, pada perjalanannya kegiatan ekstrakurikuler tersebut sering mengalami kevakuman karena kurangnya jumlah peminat. Barulah pada tanggal 26 Juni 1990 Sispala Bhuana Yasa resmi didirikan. Nama Bhuana Yasa terdiri dari 2 kata, yaitu “Bhuana” dan “Yasa” Bhuana berarti Alam dan Yasa berarti melindungi atau menjaga. Nama ini merupakan hasil disikusi anggota dengan Mapala Wanaprastha Dharma UNUD. Penomeran anggota dimulai pada angkatan II dengan nomor 0001 diberikan kepada I Putu Agus Juniartha (II).

Pada masa awal berdirinya sistim keorganisasian masih belum rapi dan jumlah kegiatannya masih terbatas, salah satu kegiatan besar yang diikuti adalah Latdas Gabungan (Latgab) I pada tahun 1996 yang diikuti oleh SMAN 4 Denpasar, SMA Santo Yoseph, SMA PGRI 6 (sekarang SMA PGRI 2), SMA Widya Pura (SMA Harapan), dan SMAN 5 Denpasar yang dilaksanakan di Pondok Pemuda Jimbaran. Kegiatan ini diprakarsai oleh Mapala WD UNUD dan kepanitiaannya lebih didominasi oleh anggota angkatan IV. Sistem keorganisasian Sispala Bhuana Yasa semakin matang dengan disusun AD/ART pada masa kepengurusan angkatan VII tahun 1997. Hal ini menjadikan Sispala Bhuana Yasa menjadi satu-satunya organisasi kesiswaan SMAN 4 Denpasar di bawah OSIS yang memiliki AD/ART.

Pada masa ini pembangunan wall climbing yang merupakan mimpi yang ingin diwujudkan. Dimulai dengan usaha penggalian dana pada tahun 1995, pada masa bhakti angkatan IV, namun jumlah dana belum memadai. Hingga tahun 1997 bersamaan dengan krisis moneter yang melanda Indonesia, akhirnya pembagunan wall pertama terwujud. Wall Climbing didirikan di bagian selatan sekolah setinggi atap. Karena minimnya anggaran pendidikan, pembiayaan pembangunan wall ini sepenuhnya berasal dari kerja keras anggota BY saat itu.

Era 2000-an

Meski telah memiliki wall climbing sendiri, dirasa belum memenuhi standar nasional (panjang jalur minimal 15 meter). Maka muncul gagasan untuk merenovasi wall climbing tersebut dan memindahkannya pada posisi sekarang. Pemindahan posisi wall karena tempat tersebut dibangun tempat parkir siswa kelas III. Pembiayaan wall berasal dari bazar dan sponsor angkatan IX serta biaya pondasi ditanggung sekolah. Peresmiaan wall climbing ini dilaksanakan bertepatan dengan pergantian milineum baru, 1 Januari 2000 pukul 00.00. Wall Climbing ini merupakan tonggak atau simbol perjuangan sispala Bhuana Yasa agar dapat mandiri dan bertanggung jawab untuk mempertahankan organisasi

Setelah berdirinya wall climbing mulailah diadakan kompetisi panjat dinding tahunan “Bhuana Yasa Cup” Bhuana Yasa Cup I diadakan pada tahun 2000 dengan peserta pelajar se-Bali. Karena berbagai kendala maka Bhuna Yasa Cup II diadakan tahun 2002 dengan peserta dari Bali dan NTB. Sejak saat itu Bhuna Yasa Cup menjadi event 2 tahunan yang dilanjutkan pada tahun 2004, Bhuna Yasa Cup III dengan jangkauan peserta dari Jawa, Bali dan Lombok. Bhuana Yasa Cup III menjadi event panjat dinding terakhir karena aturan baru FPTI menyatakan wall climbing saat itu tidak layak untuk kompetisi.

Selain Bhuana Yasa Cup, kegiatan besar yang dilaksanakan adalah reuni akbar “Bhuana Yasa Gathering Camp I” yang diadakan di Buyan II. Kegiatan ini mengambil tema “Let share the green”. Pada Gathering Camp pertama diadakan pelantikan Pak Dena Arsana sebagai anggota kehormatan pertama. Acara reuni berikutnya didakan setiap 5 tahun sekali.

AD/ART organisasi mengalami dua kali peyempurnaan pada masa ini, yaitu pada masa jabatan Oriza Angga Irawan (X) tahun 2001 dengan penambahan aturan atribut organisasi. Pada tahun 2006, masa jabatan Nyoman Ginastra (XIV) dengan aturan tentang kontak fisik dalam diklat dan kegiatan. Penyempurnaan AD/ART terakhir ini merupakan imbas dari kasus kekerasan yang terjadi di IPDN. Kasus IPDN telah mengubah pola diklat dan kegiatan hampir semua organisasi sekolah dan kampus di Indonesia. Hal ini berdampak dengan berkurangnya latihan fisik dan perizinan kegiatan alam bebas oleh sekolah pada angkatan berikutnya.

Era 2010-an

Tahun 2010 diadakan kegiatan Gathering Camp II yang bertema “Connecting the trace history”. Acara ini kembali diadakan di Buyan II, dengan fokus diskusi tentang situasi riil dan permasalahan yang dihadapi pengurus BY saat itu. Karena terbatasnya kegiatan yang dapat melibatkan angota alumni, maka Gathering camp III diadakan tahun 2012 dan menjadi anggota tahunan. Pembiayaan dan pelaksanaanya pun sepenuhnya ditanggung oleh anggota alumni. Gathering Camp III mengambil tema “Come in Unity” berikutnya Gathering IV dengan tema “Restore our pride” diadakan di Buyan I. Pelaksanaan Gathering Camp ini dilaksanakan setelah selesainya renovasi wall climbing.

Renovasi wall climbing berikutnya dilalaksanakan pada tahun 2013, bentuk renovasi berupa memperkuat konstruksi rangka dan mengganti papan kayu, dengan papan fiber yang sesuai dengan standar internasional. Pembangunan wall ini dimotori oleh Widiastra (VI) dengan biaya sepenuhnya merupakan donasi dari anggota alumni.

Kegiatan

  • Pembuatan pupuk kompos
  • Aksi bersih sungai
  • Bakti sosial
  • Hidroponik
  • Panjat dinding
  • Hiking
  • Gathering camp

Kegiatan rutin kompos dan latihan manjat!! Tetap terbaik!

A post shared by Sispala Bhuana Yasa (@bhuanayasa_official) on

Sekretariat:

SMA Negeri 4 Denpasar.
Jl. Gunung Rinjani No.1, Tegal Harum, Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali 80119.
Telp (0361) 485363.
Email: bhuanayasa.1990@gmail.com