SENIOR
Senior Sispala pada masa itu secara umum dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu golongan pembantai, golongan antara setengah dewa, atau malaikat penolong. Senior malaikat penolong adalah senior yang tenang, jarang marah, dan irit memberikan seri kepada calon anggota yang berbuat kesalahan. Ini adalah tipe senior idaman, target utama pelaporan kegiatan. Tingkat yang kedua adalah golongan antara, senior yang bisa tenang namun bisa juga keras dalam taraf yang wajar. Yang terakhir, adalah golongan pembantai. Butuh persiapan mental dan fisik bertemu senior-senior ini. Zaman itu adalah zaman ketika masih ringan kaki tangan, ketika kita berbuat kesalahan, tangan dan kaki senior golongan pembantai dapat melayang tiba- tiba, terkesan sangat ringan.
Senior yang memegang kegiatan/panitia adalah senior satu tingkat di atas kami. Senior dua tingkat di atas kami hanya jadi semacam pasukan penggembira (gembira di mereka merana di kami).
CAMP
Area camp terletak paling atas/selatan dari tempat Latdas. Camp dibagi menjadi dua, yaitu area camp panitia dan area camp peserta. Area camp panitia berada menyatu dengan area lapangan. Di area ini biasanya dibangun satu tenda komando, tenda dapur, dan tenda untuk tamu.
Area camp peserta berada tak jauh dari area camp panitia. Area camp berupa tegalan yang dibatasi oleh pagar tanaman. Lokasi tenda kelompokku berada di area paling selatan. Apabila hujan, tidak akan ada genangan karena akan segera mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tenda yang kami dirikan adalah tenda terpal, didirikan dengan 2 tongkat pramuka dan beralaskan matras. Cukup sederhana dan hanya digunakan untuk beristirahat siang (masak dan makan siang) dan malam hari.


Baju untuk kegiatan seingatku ada tiga, baju putih, baju olahraga dan baju Latdas. Sedangkan celana tetap celana panjang hitam. Menu harian kami tak dapat kuingat dengan jelas, yang pasti ada mie,telur dan nasi, sedangkan tambahannya aku sudah lupa (ntah kering tempe atau abon ayam). Saat itu kami tidak boleh membawa makanan dari daging sapi. Kami memasak dengan menggunakan nesting TNI dan kompor spritus, kompor tahan banting yang harus diimbangi dengan tahan aroma makanan yang menjadi mirip aroma spritus.
Kejadian yang tidak akan aku lupa di area camp ini adalah kejadian “lampu badai”. Suatu sore, dalam suasana yang santai, senior bertanya kenapa lampu badainya belum dinyalakan. Aku jawab dengan nada bercanda, “belum kak, kan belum ada badai, hehe”, di samping memang kondisinya memang masih terang. Namun, kurang dari semenit, tiba-tiba angin berhembus kencang…sangat kencang malah hingga tenda kelompok tetangga (aku lupa tenda milik siapa) tersingkap dan terbang. Tak seberapa lama angin pun reda, dan suasana kembali tenang. Kontan saja senior datang sambil bertanya dengan nada yang agak keras “Siapa tadi yang minta-minta badai?!”. hah, salah ngomong nih, bercanda tidak pada tempatnya. Hal lain yang aku ingat adalah ketika tengah malam yang disertai hujan deras, aku dan oche terbangun. Beberapa patok tenda kami lepas, dan air membanjiri bagian dalam tenda..atau setidaknya tempat kami berdua tidur. Akhirnya salah satu dari kami keluar, untuk membenarkan tenda daripada air yang mengalir membesar menjadi sungai. Pada saat mendirikan tenda di tengah terik , kami tidak memikirkan sistem drainase sebagai antisipasi hujan deras. Akibatnya ada “sungai” yang melintas di dalam tenda kami.