MATERI DAN KEGIATAN
Urutan kegiatan Latdas sudah tak lagi aku inget. Materi seperti turun bukit, merayap, pruisiking didampingi oleh panitia. Sedangkan panjat tebing dan ESAR diberikan oleh Basarnas.
Hari-hari latihan dasar dibuka dengan olahraga rutin di pagi hari saat matahari masih bersembunyi. Lari sambil terkantuk-kantuk adalah hal yang biasa. Begitu pula apabila ada materi malam. Menaruh perhatian penuh kepada senior pemateri (kalau tidak salah saat itu adalah kak Rani, senior BY saat itu tergabung dalam Mapala WD, saya lupa materinya apa) adalah hal yang penuh perjuangan. Belum lagi suara genset yang membuat pengajar tidak terdengar jelas. Pada dasarnya Latdas adalah materi lapangan/materi praktek, karena sebelum Latdas kami rutin diberi materi kelas setiap minggunya dengan penerapan melalui lintas alam. Namun, materi tersebut memang tidak memadai. Baik dari substansi maupun ketepatan materi.
Dilatih oleh tim Basarnas sama menegangkannya dengan dilatih senior, kakak-kakak tim SAR sangat tegas, terutama terkait peralatan. Menginjak tali, dipastikan akan mendapat bonut set. Menjatuhkan alat, mendapat bonus set. Terlalu lelet, mendapat bonus set. Belum lagi kalimat-kalimat “motivasi” ketika kita sedang melaksanakan kegiatan panjat tebing. kalimat-kalimat yang cukup melatih mental.
Bonus set ini hampir saja aku dapatkan ketika kegiatan rappeling. Saat hendak rappeling di tebing, figure of eight tak sengaja kujatuhkan, tak ayal mas Basarnas bertanya, “apa itu?!?”, dengan tatapan dan sorot mata yang tajam. Meski kondisi fisik sudah lelah, untung saja otak masih bisa diajak berpikir cepat. “Maaf kak, figure terbentur pohon”, jawab aku berbohong. Untung saja alasan itu diterima. Aman sudah dari set-set hukuman yang menguras tenaga.
Materi lain yang diajarkan oleh Basarnas adalah materis Evacuation, Search And Rescue (ESAR). Kami melakukan simulasi mencari rekan kami yang hilang di hutan dan tentu saja dengan sedikit bumbu tambahan. Para CA laki-laki diharuskan membuka baju saat melakukan ESAR. Ya, melakukan ESAR di antara semak berduri memang mengasikkan. Keluar dari area ESAR, tubuh pun penuh luka gores.
Materi lainnya senior yang saat itu kurang berfaedah adalah materi survival. Kami hanya dibiarkan mencari makanan sendiri dari siang hingga malam, tetapi tidak dijelaskan apa saja yang bisa dimakan hingga akhir kegiatan. Menu saat itu hanya buah bekul dan bekicot, yang diberi bumbu mie selundupan yang dibawa oleh Betet. Benar-benar hanya fomalitas, makan bekicot biar menggugurkan tugas saja, tidak mengenyangkan perut.



Setiap materi selalu ada set yang ditambahkan. Satu set terdiri dari 10 push up dan 10 sit. Sedikit beruntung sejak malam pertama, hujan selalu mengguyur sehingga kami tidak kepanasan dan kehausan. Namun tetap saja, fisik terkuras dengan berbagai macam kegiatan dan hukuman set yang terakumulasi dan dianggap sebagai utang. Mungkin kalau utang set selama Latdas ini diaudit, satu angkatan terancam bangkrut dan dilikuidasi. Ada semacam bonus tak terduga untuk peserta dimana suatu kegiatan yang sudah dijadwalkan tiba-tiba dibatalkan, salah satunya karena ada peserta yang sakit. Memang, terlihat seperti bersukaria di atas penderitaan, tapi percayalah, jasanya sangat berarti :D. salah satu kejadiannya adalah ketika ada permainan kejar tangkap, tiba tiba saja Gek An mengalami gejala seperti asma. Dengan sigapnya betet berteriak minta tolong ke panitia dan kegiatan pun batal. Kami pun terbebas dari kewajiban lari naik turun jalur yang melelahkan.
Kejadian pembatalan kegiatan yang tergolong lucu adalah saat akan melakukan jurit malam, CA dikumpulkan di lapangan utama pada tengah malam. Senior berdiri di depan, dan mulai menaikkan suasana. Namun kali ini ada yang beda, ada senior terdengar sedikit meracau, bahkan antar senior saling bantah. Tanpa ada kejelasan, kami disuruh kembali lagi ke tenda untuk istirahat. Belakangan baru kami tahu, kala ini ada senior yang sedikit “tinggi” aka mabuk… haha. ini semacam bonus bagi CA, kegiatan jurit malam tidak ada, waktu istirahat pun bertambah panjang.
Kegiatan penutup adalah longmarch menuju sekolah. Jarak pondok pemuda ke sekolah sekitar 18,5 km, jarak yang cukup lumayan untuk ditempuh setelah berkegiatan 6 hari 1 malam. Untung saja CA tidak diwajibkan untuk membawa ransel. Kami hanya membawa tongkat dan ponco saja, sedangkan untuk air minum hanya dijatah oleh panitia ketika istirahat. Dan kembali, hujan masih bersahabat dengan kami, sehingga hampir sepanjang perjalanan hujan menyirami kami, sehingga longmarch ini kami lalui tanpa harus kehausan. Kalau mau minum, tinggal menghadap langit saja. Salah satu kejadian yang masih terngiang adalah peristiwa jambu air. Hujan memang dapat menahan haus, tapi tidak dengan lapar. Hampir seminggu tidak mendapat asupan makanan yang menggugah selera membuat kami ingin segera menikmati makanan selain makanan rutin yang kami masak. karena itu, ketika melintasi pohon jambu air, kami pun bersiasat untuk mencuri jambu air yang menjuntai di tepi jalan. Mustika, sejauh ingatanku, segera menjalankan tugasnya, melompat dan meraih beberapa jambu air. Jambu air sudah ditangan dan segera didistribusikan ke CA yang lain. Sesampai di tangan Pam, ia pun mencicipi buah jambu itu. “Ah masih mentah”, lalu melempar jambu itu. Aku dan Mustika hanya terpana melihatnya…susah susah ngambil, dibuang begitu saja…….
Ya, begitulah sekilas gambaran latihan dasar Angkatan X Sispala Bhuana Yasa. Masih banyak sebenarnya peristiwa-peritiwa yang sudah mulai terlupakan atau tidak lulus sensor untuk diceritakan :D. Kini baik kegiatan dan lokasi kegiatan sudah berubah sama sekali. Tahun 2019 tidak ada Latdas di luar sekolah dan pondok pemuda pun sudah menjadi resort dengan pantainya yang dikenal sebagai Pantai Mimpi …suatu pantai tempat kami berusaha meraih mimpi…mimpi untuk menjadi seorang pencinta alam.
TETAP YANG TERBAIK!!!!!!! BHUANA YASA!!!!
Artikel ini dikutip dari: https://akuntomountain.wordpress.com/2020/05/05/kilas-balik-latihan-dasar-angkatan-x-sispala-bhuana-yasa/